Rabu, 19 Desember 2012

Lelaki Tampan

Aku seperti melihat gadis kecil yang menyeberang jalan, hujan turun tapi payung yang dipegangnya hanya diayun-ayunkan begitu saja.

Aku ingin sekali memeluknya. Hanya aku tidak cukup tangguh untuk bersaing dengan lelaki itu. Aku bahkan tidak memiliki bakat dalam menghancurkan sebuah hubungan.

Oh, mengapa dia hanya bisa mencintai lelaki tampan?

Aku bertemu dengannya waktu itu.
Dia selalu terlihat tenang dan cantik. Seperti biru permukaan danau dengan riaknya yang sangat dalam.
Diam-diam aku menginginkannya.

“JANGAN BERTINGKAH SEPERTI TIDAK PERNAH TERJADI SESUATU DI ANTARA KITA!!!” aku membentaknya.

Gadis itu selalu menghindari tatapanku.

“Apa pernah ada?” dia membuang wajahnya.

“MALAM ITU, KAMU MEMINTAKU MELAMARMU!!!” aku mendesaknya. Aku ingin dia tahu bahwa aku tak pernah bermain-main dengan ucapannya.

“Aku masih bersamanya.”

 “KUBUNUH DIA JIKA MENYAKITIMU LAGI!!!”
                                                     …

Kamis, 21 Juli 2011

malam minggu dan lampu terangnya

06.30

Gue bangun. Dada gue seperti tetindih barbel 100 ton. Barbel raksasa yang akan menghancurkan tubuh gue dalam sekali gilas.
Gue mengerjap kaget. Dada gue berdesir, sakit.

Gue tampar pipi kirinya tadi malam.
Telapak tangan gue sakit. Tapi hati gue yang paling sakit.

Dia berhenti menjelaskan. Dia ngasih pipi kanannya. Dan gue menangis lagi.

“Maaf,” kata gue.

Seperti mimpi-mimpi buruk yang sama. Yang selalu gue abaikan saat gue terbangun. Gue takut berhenti dicintai.

“Aku sayang kamu.” Suaraya lirih sekali.

...


07.00

“Masih pagi. Mau kemana?” itu teman gue. Gue tau dia khawatir.

“Jogging.” Gue akan melakukan apa yang dulu tidak bisa gue lakukan saat gue bersama dia.

“Naik sepeda aja. Jangan lari.”

Gue nurut.
Di tempat lain. Setelah tangga ke 24, gue ketuk pintu kamar teman gue yang lain. Teman gue ngasih kunci sepedanya. Katanya gue lebih baik sepedaan di Mandala Krida.

Gue ngiterin stadion itu satu putaran.
Sama seperti pikiran gue, hanya berputar-putar pada percakapan tadi malam.

Look how beautiful you are,” kata dia saat kami berpelukan di depan cermin setelah gue menangis. Tangannya menyeka sisa air mata gue.

Lalu kami bicara. Gue mengerti tatapannya. Diamnya menceritakan banyak kalimat dari pada yang bisa dia katakan.

“Kalau kita putus, aku mau jadi lebih cantik.”

“Kamu sudah cantik”

Tidak. Gue tidak cukup cantik untuk membuat lo hanya mencintai gue.


“Kalau kita putus, aku mau rajin ngegym biarbadanku bagus.”

“Badan kamu sudah bagus.”

Nyatanya lo juga memberi harapan sama cewe gendut jelek yang dengan niat merampas elo dari gue.

...


08.45
Matahari udah nyinarin muka gue yang keling. Ini putaran ke 5. Kaki gue berasa pegel. Gue tetap kayuh sepeda ini sampai nanti putaran ke 7.

...


09.00
Sekarang kaki gue udah kayak lumpuh.
Gue sudah sampai putaran ke 7.
Gue selesai mengingat dia.
Gue selesai mengingat kalimat terakhir yang gue ucapkan malam tadi.


“Kita putus.”


...


Gue akan selalu seperti malam minggu.
Dan lo akan selalu seperti lampu-lampu terang buat gue.

Rabu, 27 April 2011

kuis ngaco

Sebelumnya gue akan mengakui bahwa mungkin ini terlihat rada childish dan abg abis, (sumpah perut gue keram abis ketawa ngakak-ngakak). Secara tidak sengaja malam itu gue menemukan script kecil di folder tersembunyi di dalam file gue yang paling bulukan. Well, gue bermain-main sedikit disana.

Dan untuk semua nama yang tanpa sengaja gue sebut dbawah ini foremost regarding this dumb recount, enggak usah GR ya?? =P

Awalnya gue shocking. Ini maen tebak-tebakan tapi tulisanya kayak orang lagi maki-maki. Gue lalu mangikuti prosedurnya dengan lemah gemulai.

Check this out.

ISI INSTRUKSI YANG DIMINTA. BACA SATU PARAGRAF DEMI SATU PARAGRAF!!!

Pertama-tama siapkan bolpen dan kertas.

Waktu memilih nama, anda harus memilih orang yang anda kenal. Jangan terlalu banyak mikir, tulislah apa yang ada di kepala anda. INGAT : Maju satu paragraf per-paragraph.

1. Pertama-tama tulis angka 1 sampai 11 di kertas. (silahkan dicoba juga, kalo penasaran)

2. Tulis angka yang paling kamu senang (antara 1-11) disebelah angka No.1 dan 2

3. Tulis 2 nama orang (lawan jenis) yang kamu kenal, masing-masing di No.3 dan No.7

4. Tulis 3 nama orang yang kamu kenal (teman keluarga, kenalan) di No.4, 5 dan 6.

5. Di no.8, 9, 10 dan 11 kamu tulis nama judul lagu yang berbeda-beda

6. Terakhir, tulis kamu punya permohonan. (Kamu minta permohonan)

Dan dengan kepolosan yang luar biasa, beginilah jawaban gue:

1.

7.

2.

3 Ara

4 Qadar

5 Nisha

6 Bagas

7 liga

8 God put a smile upon your face

9 The scientist

10 In my place

11 Yellow

Permohonan: Gw jg pengen laptopnya Ara dan hape gue yang kemarin dimaling itu dibalikin gitu. Oh ya gue juga pengen jago Nihon Go.

Dibawah ini ada jawaban dari psikotestnya: (gue buru-buru pengen tahu apa arti jawaban yang udah gue tulis)

1. Anda harus memberitahu ke orang yang anda tulis di No. 7 tentang psikotest ini.

2. Orang yang anda tulis di No.3 adalah orang yang kamu cintai.

3. Orang yang anda tulis di No.7 adalah orang yang kamu suka, tetapi bertepuk sebelah tangan.

4. Orang yang anda tulis di No.4 adalah orang yang anda rasa paling penting bagi anda.

5. Orang yang anda tulis di No.5 adalah orang yang paling mengerti tentang anda.

6. Orang yang anda tulis di No. 6 adalah orang yang membawa keberuntungan pada anda.

7. Lagu yang anda tulis di no. 8 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No. 3

8. Lagu yang anda tulis di no.9 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No.7

9. Lagu yang anda tulis di no.10 adalah lagu yang melukiskan apa yang ada di hati anda.

10. Terakhir, lagu yang anda tulis di No.11 adalah lagu yang melukiskan hidup anda.

Jadi, sampai disini perut gue keram. Ada yang ketebak ada juga yang sangat ketebak, hahahahahha…

Ketawain aja. Tapi gue jujur kok. =)

But one thing I procrastinate, past let pass away. Right now more than ever.

Minggu, 17 April 2011

Isn’t chaos enough, Barbie.

Pertama. Memang kenyataannya gue sudah cantik jadi gue banyak diam dan bersyukur.
Kedua gue nggak punya masalah dengan orang lain hanya karena dia berbeda dengan gue.
Dan terakhir, ada darah Boa Hancock yang mengalir di tubuh gue.
Ok yang terakhir gue becanda. Tapi gitu lah maksud gue.
Bukannya diam itu emas? Bukanya kerendahan budi seseorang itu bisa dilihat dari kebiasaannya yang suka ngomong panjang lebar tentang suatu hal yang padahal engga ditanya? Kenapa sih dia harus menceritakan segala-galanya yang dia tahu? Dia pikir gue nggak ngerti? Eh bodoh, gue ngertiiiiiiii, monyeeeeeeeet..
Gue tau semua hal yang elo bicarakan. Hanya gue tidak membicarakannya kapanpun di manapun. Gue gila Harry Potter. Gue punya bukunya 1 sampai 6 (beberapa memang minjem dan sengaja belom gue balikin, =P) dan elo yang baru tadi siang nonton aja udah sok tahu mampus. Oh pleaseeeee lo bahkan enggak tahu nama tengahnya Ronald Weasley????????
Gue punya hidup yang lebih gila dan gue tidak begitu saja koar-koar ke semua orang kalo sesuatu hal yang sepele baru saja terjadi. Begini lo bilang awesome begitu lo bilang kiamat. KENAPA ITU HARUS JADI MASALAH??? HELOOOOOOOOOOO… Isn’t chaos enough, Barbie.
By God, seandainya lo bukan teman gue. Seandainya gue bisa terang-terangan ngasih tahu bahwa kelakuan lo itu totally non sense. Seandainya bisa gue menjadi orang lain pastinya udah abis-abisan lo gue tegur.
Sialnya baru gue sadari negur teman sendiri ternyata lebih susah dibanding negur orang lain yang tidak harus kita jaga perasaanya.

Minggu, 28 November 2010

hujan malam tadi

Di luar hujan deras.
Gue suka kalau hujan malam-malam begini. Rasanya seperti ada iringan nada tak beraturan yang membungkus pendengaran gue. Menderu-deru. Mengikuti rasa hati yang sedang tidak yakin. Hati yang bimbang.
Hujan selalu saja turun saat perasaan gue lagi meradang.

Dosen gue pernah bilang kalau ada satu organ kecil yang menjadi pengendali seluruh organ lain di dalam tubuh kita. Awalnya gue pikir organ pengendali tersebut adalah otak. Tetapi gue salah. Organ pengendali yang dosen gue maksud adalah hati.

Gue ingin acuh. Gue ingin mengabaikan. Tapi ada yang membuat batin gue begitu tertekan. Dan emosi yang gue redam perlahan mulai kotor dan mengarak. Entah. Hati gue seperti dikuasai perasaan lain yang tidak mampu gue kendalikan. Bersalah. Gue merasa tidak sanggup.

Berat hati. Gue paksa untuk diam ditengah hujan tadi, gue leburkan semua air mata dan kelemahan, gue melihat ke dalam diri gue sendiri, mencari alasan bahwa mungkin dia benar. Mungkin gue benar-benar egois.

“Hujan.. tolong peluk gue. Lengan yang biasanya memeluk gue sekarang lagi benci banget sama gue.”

Mungkin gue bukan penyampai yang baik. Mungkin gue menggunakan bahasa yang tidak biasa terdengar. Padahal gue hanya terlalu bahagia jika akan bertemu dengannya. Hanya ditelinganya gue terdengar seperti drama queen yang memaksa dan menekannya sampai berlarut-larut.
Seandainya dia tahu. Gue bahkan tidak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri.

Senin, 25 Oktober 2010

distressed

Kita nggak akan pernah bisa ngedit apapun yang udah terjadi di hidup kita. Gue pernah mencoba. Tapi gue keburu sadar kalo mesin lorong waktu ternyata cuman ada di sineteron religi dan kalung jam pasir pembalik waktu punya Hermione ngga pernah ada di dunia muggle.
Cerita yang udah kita bikin di hidup ini nggak bakalan bisa kita ubah. Cerita itu kayak ditulis pake tinta abadi. Dan nggak mungkin bisa kita hapus di bagian awal saat kita tau bagian itu lebih baik disingkirin aja.
Apa gue terdengar sedang menyesali sesuatu?
I’M NOT.

Rabu, 26 Mei 2010

HIM

Sampai di sini gue berhenti mengalah. Awalnya gue enggak menganggap elo seperti rival. Sayangnya lo nggak bisa bertoleransi dan memahami sedikit bagaimana rasanya jadi seseorang yang disembunyikan.

Tadinya gue jauh lebih egois dari ini. Tapi sekarang mending karena dia ngajarin gue banyak hal tentang menghargai dan tidak meremehkan orang lain, juga tentang menjaga perasaan seseorang, tentang ketidakmanfaatan banting hape saat sedang marah, tentang berbohong, tentang ‘lebih baik sholat meskipun telat dari pada enggak sholat sama sekali’, tentang sabar kalo mo download di 4shared, tentang Bleach, tentang menunggu, tentang cemburu, juga tentang mencintai.

Apa lo pernah menangis sesenggukan atau tertawa bareng dia? Apa lo pernah dicuim dia? Apa lo pernah nangis yang enggak berhenti-berhenti saat dia meluk lo setelah elo ngamuk? Apa lo pernah dimarahin abis-abisan sama dia di tempat umum gara-gara lo jalan pake rok pendek? Apa lo memanggil dia dengan nama konyol yang enggak dia suka tapi karena dia sangat menghargai lo lalu dia memperkenalkan dirinya dengan nama itu? Apa dia pernah memaksa untuk nganterin lo check up ke rumah sakit? Apa dia jujur sama lo dan bilang kalo dia sedang mencintai lebih dari satu perempuan? Apa lo pernah dikenalin ke teman-temannya sebagai pacar? Apa lo pernah suap-suapan taro dan indomilk cokelad sama dia? Apa di pesta ulang tahun sahabat lo, elo makan satu piring sama dia? Apa pernah dia ngusap mascara lo yang luntur karena lo keujanan? Apa pernah tengah malam saat lo tertidur dia berbisik di telinga lo ‘aku sayang kau’? Apa pernah jam setengah satu pagi dia datang dan beresin masalah lo setelah lo kirim pesan ke dia ’I’m lose’? Apa dia pernah memakai lip balm dari tempat make up lo? Apa dia pernah begitu menyesal saat dia nggak bisa lagi pake piercing di bibir kirinya padahal lo sangat suka piercing itu? Apa dia juga ngebiarin saat boneka macannya lo kutil dari kamar dia dan diam-diam lo bawa pulang? Apa pernah dia ngajarin lo cara mengikat tali sepatu? Apa pernah lo ngematin muka juteknya tidur dan menyadari betapa sayangnya lo sama makhluk menyebalkan itu?

Jawaban gue: Iya... gue pernah.

Memang Casanova abiz. Tapi dia sangat berharga buat gue. Jauuuuuuuuuuuuuuuuh ketimbang lirik-lirik lagu yang lo tulis buat dia.